Kophong

Aku mulai menyadari kekosongan itu sekitar tujuh tahun yang lalu. Pandangan bahwa diriku merupakan sebuah gelas kosong yang harus diisi selalu jadi dasar atas keseharianku. Ironisnya, tak pernah sekali pun aku merasa penuh.

Kutarik mundur lagi dan kuamati pergerakan batin sesuai ingatanku. Momen memang boleh saja terlupakan, tetapi apa yang sudah tergores di batin tidak semudah itu hilang. Aku menemukan bahwa lubang itu sudah menganga sejak sepuluh tahun lalu.

Ketika aku masih terjebak dalam penjara suci dan doa adalah senjataku dalam menghadapi hari, sebenarnya lubang itu sudah menyapa. Aku berusaha menutupi ruang kosong itu dengan doa dan hidup sosial yang sempurna, seperti berusaha menambal sumur dengan bongkah-bongkah batu. Namun aku sadar proses itu takkan selesai, sementara lubang itu kian menganga di putaran akhir masa sekolahku.

Pada akhirnya, keberadaan Tuhan bukan jawaban. Ia hanya menjadi pelarian atas ketidakterjawaban pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan hidup. Aku pun mencari solusi lain, tetapi yang ada justru keberingasan untuk terus menutup lubang itu, tak ada jalan lain yang bisa kupikirkan. Padahal seiring waktu berjalan, lubang itu pelan-pelan membesar – dan kekosongan itu nyaris menelanku ketika aku menginjak usia 23 tahun.

***
Biasanya lubang itu membesar secara perlahan, tetapi ia tiba-tiba saja sudah menguasai mayoritas relung jiwaku. Dalam kurun waktu sebulan, dua insiden yang tak terhindarkan membuat ruang kosong itu semakin besar. Black hole, sebutanku untuk sesuatu yang abstrak itu, mulai tidak bisa kukendalikan lagi dan setiap saat ia selalu mengancam untuk menelanku.

Namun kali ini aku tak berusaha mengisinya. Biar saja ia menelanku. Tak peduli siapa saja yang ada di sekitarku, di sampingku, di depanku, di belakangku. Tak peduli apa pun yang aku lakukan untuk mencari uang, mengejar cita-cita, memenuhi ambisi. Tak peduli kepada apa saja aku berdoa baik itu Tuhan, leluhur, alam, semesta. Black hole tetap ada dan akan selalu ada karena pada dasarnya ia adalah bagian dari semestaku.

Biarkan ia menelan segalanya, lalu (semoga) menciptakan big bang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s