Power Ranger Light Speed Rescue

Wanita itu masih terduduk tegang di ranjang. Setengah kakinya terbalut selimut, tangannya penuh keringat, malah seluruh tubuhnya sudah banjir kecut. Sudah lebih dari satu jam ia mematung di sana, memandangi genggam yang tak mau lepas dari lutut yang mulai mengkerut. Tubuhnya kaku tak bergerak, tapi pikirannya terus menatap cermin di hadapannya.

“Bangsat. Seharusnya aku tolak saja ketika Rohman menghadiahi cermin ini. Aku terlalu naif kalau berpikir dendamnya sudah usai!” bisik sang wanita dalam hati, sepenuh hati mengutuk mantan kekasihnya.

Memang ada yang aneh dengan Rohman kemarin. Lelaki itu biasa menghujat dengan fasih setiap kali bertemu dengan mantan kekasihnya. Adapun pada kesempatan lalu, ia dipenuhi dengan senyum dan tawa. Dalam kunjungan ke rumah mantan kekasihnya, ia bahkan membawa hadiah cermin antik dari kayu jati, berukiran kijang kencana di setiap sudutnya.

Sang mantan, bodohnya, langsung menerima hadiah itu tanpa curiga sedikit pun. Ia memang sudah jadi maniak kayu jati sejak kecil. Kursi, meja, pintu, jendela, lantai, dan rumahnya terbuat kayu jati. Tak tanggung-tanggung, wanita pesolek itu hanya mampu dipinang oleh pria yang bernama Jati – dan nama suaminya saat ini adalah Parang Jati.

“Taruh tepat di depan ranjang,” ujar wanita itu, mengarahkan kuli yang membawa cermin barunya. “Biar setiap pagi ia bisa menatap mahakarya itu beserta kecantikan yang terpantul dari tubuhku. Biar aku semakin terangsang ketika terpaksa bercinta dengan suami jatiku. Biar aku bisa mengagumi setiap lekuk yang dianugerahkan oleh Bapa dan Ibuku. Biar bisa lihat semua. Biar bisa.”

Hari-hari awal kedatangan cermin itu tentu saja membuat wanita tersebut girang bukan kepalang. Cermin itu adalah koleksi kayu jati terbaiknya setelah Parang Jati. Setiap pagi, ia terbangun dengan senyum lebar dan cermin kesayangannya akan langsung membalas. Begitu terus setiap hari, sampai wanita tersebut tetap menjaga senyumnya ketika bercinta.

Namun suatu hari, ia menyadari sang cermin tak lagi membalas senyumnya. Sang wanita tak percaya dan menggosok-gosok matanya. Apa yang ia lihat ternyata benar-benar nyata, cermin itu tidak lagi merefleksikan keadaan dirinya. Senyum tak lagi dibalas senyum, tawa tak lagi dibalas tawa, gerak ke kanan tak lagi diikuti. Bayangan yang terpantul di cermin itu hanya menunjukkan citra dirinya yang terduduk di kasur, kaku.

Bulu kuduk sang wanita seketika berdiri ketika menyadari cermin itu tak lagi menyapanya. Ekspresi ceria yang biasa ditunjukkan setiap pagi, kini berubah tegang. Ia sedikit mengerutkan di dahi, pertanda kalut sekaligus takut. Tangannya mulai menggenggam sprei erat-erat, seperti takut disedot oleh cermin itu.

Satu jam sudah berlalu dan sang wanita  masih belum beranjak dari tempat tidurnya. Bayangan pada cermin yang ada di hadapannya masih belum mengikutinya. “Apakah ini mimpi?” pikirnya, namun segera menyadari bahwa ini nyata karena pipinya merasakan sakit ketika dicubit. Umpatan batin kepada Rohman pun kembali dilantukan setelahnya.

Tiba-tiba, refleksi yang ada di cermin itu menengadahkan wajahnya. Kali ini dia tersenyum, namun bibirnya melengkung terlalu lebar. Matanya menatap sang pemilik sembari kepalanya digoyangkan ke kanan dan ke kiri. Tertawalah bayangan itu, tanpa suara, sedangkan sang wanita yang menyadari hal tidak beres itu segera mengangkat kakinya.

Malangnya, belum sempat wanita itu keluar dari kamarnya, sang bayangan sudah lebih dulu menggapai tangannya. Kali ini kepalanya tak hanya bergoyang, tetapi berputar sambil tertawa. Ditariklah wanita itu ke dalam cermin dan seketika tak ada lagi refleksi di dalamnya. Sekadar kaca maya yang tidak berisikan apa-apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s